Thursday, May 27, 2021

Wanita Penghuni Klub Malam

(Gambar Hanya Ilustrasi. Bukan Lokasi Sebenarnya)


Kisah ini aku alami sekitar satu tahun yang lalu. Ketika aku dan keempat temanku melakukan perjalanan dari Surabaya ke Wonosobo. Sampai di Magelang, kami memutuskan untuk singgah dan beristirahat di sebuah hotel untuk sekedar melepas lelah. 

Tak jauh dari hotel kami terdapat sebuah klub malam yang terlihat ramai pengunjung. Ferdy salah satu temanku yang penikmat klub malam mengajak kami untuk mengunjungi klub malam tersebut. 

Sekitar pukul 11 malam, kami pun bersiap-siap memasuki klub tersebut. Suasana klub begitu hingar bingar, aku, Ferdy, dan ketiga temanku yang lain pun larut dengan suasana klub itu. Secara tidak sadar Ferdy banyak mengkonsumsi minuman beralkohol, sehingga Ferdy hilang kontrol atau mabuk. 

Setelah lama berpesta, Ferdy merasa ingin pergi ke toilet. Ferdy pun keluar klub menuju toilet. Begitu selesai buang air, Ferdy berpapasan dengan seorang wanita cantik. Karena Ferdy sedang mabuk, Ferdy menarik wanita itu dan mengajaknya ngobrol sambil sesekali menciumi wanita itu. Sang wanita hanya diam saja sambil sesekali memandang Ferdy. Dan Ferdy pun semakin bernafsu dengan wanita itu. 

Di dalam klub, aku dan ketiga temanku yang lain mulai mencari Ferdy, akhirnya aku yang tidak dalam keadaan mabuk keluar mencari Ferdy. Begitu aku keluar, aku melihat Ferdy sedang mencumbu seorang wanita. Melihat aku berdiri di ujung lorong, Ferdy tetap saja mencumbu wanita itu. Ia tidak peduli, sedangkan aku masih berdiri memperhatikan Ferdy dari jauh.

Beberapa menit kemudian aku kembali masuk ke dalam klub, sedangkan Ferdy masih asik mecumbu wanita itu. Akhirnya setelah selesai melampiaskan nafsunya terhadap wanita itu, Ferdy pergi meninggalkan wanita itu dan masuk kembali ke dalam klub. Di dalam klub, aku dan ketiga temanku sedang berkumpul dengan wajah serius. Beberapa menit setelah itu, aku dan ketiga temanku menarik Ferdy dan pergi meninggalkan tempat itu. 

Di dalam hotel, Ferdy melihat aku dan ketiga temanku saling berdebat, dengan wajah yang penuh keringat dan badan kami berempat gemetaran. Sambil sesekali menoleh ke arah Ferdy, karena mabuk, Ferdy tidak menghiraukannya. 

Keesokan harinya, Ferdy terbangun. Ketika ia bangun, aku dan ketiga temanku sudah mengelilinginya. Setelah Ferdy sudah sadar 100%. Aku pun bercerita tentang kejadian semalam. Aku melihat Ferdy sedang mencumbui seorang wanita berbaju putih dan berambut panjang, wajah wanita itu rusak, dengan bola mata yang menggelantung di kelopak matanya. Dan wanita itu bertaring!

Aku melihat Ferdy menciumi bola mata wanita itu yang sudah keluar dari kelopaknya, Ferdy juga mejilati leher wanita itu yang sudah terburai dan dipenuhi belatung. Tidak hanya itu, aku juga melihat ada sosok anak kecil dengan kepala yang sudah bolong, sedang menjilati leher dan kuping Ferdy dengan lidahnya yang menjulur panjang. Saat itu aku, yang melihat kejadian itu merasa shock dan hampir pingsan. Sesungguhnya aku ingin menarik Ferdy dari wanita itu, tetapi urung dilakukan karena sang wanita memelototiku dengan tajam.

Mendengar ceritaku itu Ferdy hanya bisa membeku, keringat mengucur deras dari wajahnya. Ternyata yang ia cumbu adalah mahluk halus yang menyeramkan. Di leher Ferdy juga terdapat tanda merah seperti habis dijilat dengan kuat. Setelah mendengar cerita itu Ferdy muntah darah, dan sakit selama 1 minggu. Beruntung bagi Ferdy ia tidak mengalami apa-apa lagi setelah itu, tetapi hingga saat ini trauma yang ia alami belum hilang. Ia tidak lagi berani mengunjungi klub malam.


Wednesday, May 26, 2021

Hantu Sungai Ciliwung

(Sungai Ciliwung)


“Tolong..”

Sontak, mata Rina terbuka. Suara tangisan minta tolong itu terdengar lagi! Rina membalikkan tubuhnya berusaha mengacuhkan suara itu. Gerakannya itu membuat tidur adiknya jadi resah. 

“Sst... jangan berisik, Rina,” ucap ibu yang tidur di samping adik.

Mereka semua memang tidur berdempetan di atas kasur tipis. Mau bagaimana lagi, masih bagus ada atap yang menaungi mereka tidur. Rina hanya mengangguk pelan, tetapi tetap terdengar olehnya suara tangisan minta tolong di antara kecipak air sungai Ciliwung. 

Suara minta tolong itu hanya didengar olehnya. Keluarganya hanya menganggap ia salah dengar. Sedangkan teman-temannya malah menakut-nakuti. Mereka bilang itu tangisan hantu Sungai Ciliwung yang dibunuh dan jenazahnya dibuang ke sungai itu bertahun-tahun lalu. 

“Aduh, jangan suka ingat cerita yang macam-macam, ah! Hantu itu tidak ada!” hardik Rina pada dirinya sendiri. 

Namun, tetap saja ia merinding saat tangisan minta tolong sekali lagi terdengar, membelah malam sunyi dan gelap pekat tanpa lampu. 

Rina jadi kesal sendiri karena ia ketakutan dan tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar dan membuktikan sendiri bahwa sama sekali tidak ada apa-apa di luar. 

Setelahnya, dia pasti akan tidur tenang. Maka, Rina pun memberanikan diri keluar diam-diam. Namun, apa yang Rina lihat? 

Peri kecil! Yup, peri kecil yang terjepit di antara tumpukan sampah sungai Ciliwung. Ia senang sekali melihat Rina. 

Tanpa buang waktu, Rina langsung menolong peri itu membebaskan diri.

“Terima kasih. Sudah lama sekali aku terjepit di sana,” kata peri itu. Kulitnya tampak kotor berlendir di bawah sinar bulan. 

“Huhuhuhuh... padahal dulu sungai ini cantik sekali, tapi sekarang, duh, susah sekali kalau mau ke sini, malah tersangkut sampah,” omel muram peri kecil. 

Nama peri itu Amora. Ia peri kecil penghibur hati. Tugasnya menghibur hati penduduk yang tinggal di tepi Sungai Ciliwung. Tadinya banyak sekali peri penghibur hati yang bertugas di Sungai Ciliwung. Namun, karena sampah-sampah semakin menggunung, semakin susahlah bagi para peri itu untuk berdayung menyusuri Ciliwung dengan perahu kecil mereka. Akibatnya, semakin sedikit peri yang datang untuk menghibur. Bisa ditebak, semakin sedikit penduduk yang tersenyum di tepi Sungai Ciliwung. 

Rina memang ingat, ibunya pernah bercerita dulu, penduduk di tepi Sungai Ciliwung selalu tertawa ceria. Seperti ada kekuatan hangat yang menyelimuti hati mereka. Namun, sekarang kehidupan terasa semakin keras dan semakin sedikit suara tawa yang terdengar di daerah sekitar rumahnya. 

Amora mengusap dahi. Perjalanan panjang itu menguras tenaganya. Ia hanya bisa memberi senyuman dan kegembiraan kepada Rina. Dengan seulas senyuman bersinar di pipinya, Amora pergi meninggalkan Ciliwung. 

Malam itu, Rina bekerja keras membersihkan sampah-sampah di sungai. Jelas, mustahil bagi seorang gadis kecil untuk melakukan itu semua sendirian. Soalnya, sampah di Ciliwung itu betul-betul banyak. Namun, Rina tetap bertekad untuk menjaga terus senyuman dari Amora. 

Dua puluh tahun kemudian. Ciliwung kembali bersih. Dan peri-peri penghibur hati pun kembali berdayung dengan riang ke sana, menyebar kebahagiaan. Tahukah kamu rahasianya? Ya, Rina belajar dengan rajin sampai berhasil menjadi anggota Dewan Kota yang menjalankan rencana pembersihan untuk Ciliwung. 

Rina menatap sungai bersih di depannya dengan gembira. Dalam hati, dia tahu tidak ada yang namanya peri penghibur hati. Namun, tempat yang bersih dan indah, tentu membawa kesehatan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang tinggal di situ. 


Hantu Penghuni Gunung Sumbing

(Gunung Sumbing)


Kejadian tak terlupakan ini aku alami ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, yaitu sekitar 5 tahun yang lalu. Pengalaman pertamaku mengenal yang namanya hantu ini aku alami ketika aku sedang melakukan pendakian bersama team Pecinta Alam di sekolahku.

Tepatnya di tahun 2009, aku bersama team Pecinta Alam sekolahku melakukan pendakian ke gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah. Kami melakukan pendakian di bulan Desember bertepatan dengan musim penghujan.

Pendakian di mulai dari dukuh Kalikajar Garung dan mengambil rute jalur baru. Karena memang dari pos ini terdapat dua jalur pendakian yakni jalur lama yang agak landai medannya, dan jalur baru yang terjal dan curam jalannya. Kami berempat ditambah temanku dari anggota SAR-nya Sumbing, mulai mendaki setelah shalat Isya.

Sebenarnya kami tak mendapat izin dari team SAR karena cuaca buruk yakni hujan dan turun kabut. Tapi karena kami tak mau buang-buang waktu dan biaya, kami abaikan saja himbauan dari team SAR tersebut. Setelah bernegosiasi dan kami pun diizinkan naik tapi dengan syarat harus ditemani warga setempat.

Kebetulan salah satu anggota dari kami sudah ada yang kenal dengan beberapa personil tim SAR tersebut. Dan kami memilih ditemani personil tim SAR tersebut. Dengan iringan doa restu juru kunci dan teman-teman semua, kami berlima akhirnya bergerak menembus tebal dan gelapnya kabut.

Awalnya kami berlima enjoy-enjoy saja sewaktu melintasi ladang tembakau petani di bawah pos pasar setan, kami selalu bersama. Karena pengaruh suhu di gunung yang sangat dingin, aku pamit untuk kencing dahulu, dan teman-teman aku persilahkan jalan duluan, nanti aku nyusul di belakang.

Dengan sedikit terburu-buru aku lari ke semak-semak untuk menyelesaikan hajat. Begitu selesai kencing, aku lihat empat temanku masih menungguku, tadinya aku kira mereka sudah jalan duluan. Setia juga mereka, begitu pikirku. Akhirnya aku gabung lagi dengan teman-temanku untuk melanjutkan pendakian.

Sembari ngos-ngosan kami terus ngobrol ngalor ngidul, bersenda gurau sambil sekali-kali berhenti untuk minum. Hingga tak terasa perjalananku sudah sampai di padang rumput yang datar, posisi di bawah pos pasar setan. Teman-temanku minta waktu untuk istirahat sejenak sekedar untuk merokok dan makan cemilan. Akhirnya kita bongkar ransel logistik, kitapun makan snack dan minum minuman suplemen. Akupun menyulut rokok kretek sekedar untuk penghangat badan.

Belum habis rokokku sebatang, aku mendengar suara teriakan orang-orang memanggil-manggil namaku. Semakin lama semakin keras dan jelas suara teriakan-teriakan itu. Aku kaget campur heran, karena aku mengenali suara-suara yang memangil dan menyebut namaku. Suara temanku satu tim dan teman dari tim SAR.

Kalang kabut pikiranku waktu itu. 

“Bukannya mereka sedang bersamaku sekarang? Kenapa suara mereka kedengaran sangat jauh…?” pikirku.

Keherananku jadi lebih tak karu-karuan ketika aku menengok ke belakang ke tempat empat temanku istirahat.

“Ya Allah…! KOSONG..!” teriakku.

Tak ada siapapun kecuali aku berdiri sendirian. Spontan berdiri semua bulu kudukku, hilang pikiran sehatku, rontok semua keberanianku. Dalam balutan ketakutan dan rasa masih tak percaya dengan yang kuhadapi, pelan-pelan aku tinggalkan tempat sialan ini. Aku naik menyusul suara teman-temanku yang memanggilku dari atas.

Begitu sudah agak jauh dari tempat kejadian, aku ambil ajian langkah seribu, lari tunggang langgang. Tak perduli gelap, banyak akar maupun batu dan jurang yang menganga di sepanjang jalan. Aku terus berlari jatuh bangun mendekati suara teriakan teman-temanku yang kedengarannya sudah ada di atasku.

Dengan tergopoh-gopoh dan mandi keringat -padahal suhu sangat dingin- aku temukan teman-temanku yang sudah menunggu. Kecemasan sangat jelas terlihat di raut wajah teman-temanku. Mereka mengira aku tersesat karena tak tahu jalan. Dan aku mengiyakan saja. Aku tidak mau mereka ikut-ikutan takut, apalagi sampai pendakian gagal. Dan malam itu kami buka tenda dan bermalam di pos Pasar setan.

Wednesday, May 19, 2021

Rumah Tua di Tepi Jalan

(Gambar Hanya Sekedar Ilustrasi, Bukan Tempat Kejadian Sebenarnya)


Malam itu, bukan main gelapnya sampai jalanan tidak begitu jelas terlihat, ditambah hujan turun dengan lebatnya sejak petang tadi. Hawa dingin pun terasa hingga sampai ke tulang. Aku berjalan perlahan menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari tempat berteduh. Jalanan gelap tidak ada penerangan sama sekali karena sejak tadi listrik padam. Dalam kegelapan dan hujan yang begitu deras, membuat jalanku tertatih dan terkadang hampir jatuh tersungkur. 

Aku hanya bergantung pada kilat yang datang. Setiap kilat memancar, mataku melihat ke kiri dan ke kanan mencari tempat berteduh. Tapi belum juga terlihat olehku tempat berteduh yang aman. Di kanan kiri hanya terdapat pohon-pohon besar saja. Aku tidak berani berteduh di bawah pohon karena aku teringat akan nasihat orang-orang tua bahwa petir suka menyambar pohon. Ketika kilat memancar sekali lagi, terlihat olehku sebuah rumah di antara pohon-pohon besar itu. Dan terdapat jalan setapak ke arah rumah tersebut. Pelan-pelan aku berjalan menuju rumah tersebut. 

“Semoga aku dapat berteduh di rumah itu sementara. Syukur kalau tuan rumahnya orang baik dan bersedia mempekerjakanku dan tinggal di rumah itu” kataku dalam hati.

“Setidaknya aku bisa menjadi tukang belah kayu atau membantu mengangkat air. Semoga tuan rumahnya mempunyai belas kasih kepada pengemis sepertiku ini” pikirku.

Akhirnya sampai juga aku di rumah itu. Rumah itu terlihat gelap gulita. Satu cahaya api pun tidak nampak dari luar. Mungkin penghuninya sedang tidur terlelap. Aku terus menuju ke pintu depan yang tertutup rapat. Awalnya aku ingin mengetuk pintu, tapi aku urungkan niatku karena aku berpikir mungkin penghuninya sedang tidur nyenyak dan aku tidak ingin mengganggunya. Namun karena di luar terasa sangat dingin dan bajuku pun sudah basah kuyub. Aku pun tidak kuat lagi menahan rasa dingin ini. Akhirnya aku beranikan diri untuk mengetuk pintu. Belum sempat aku mengangkat tangan untuk mengetuk pintu itu, tiba-tiba satu tiupan angin dari belakangku telah membuka pintu itu dengan sendirinya. 

“Ngeeekk,” bunyi pintu itu terbuka dengan perlahan.

Aku menengok ke dalam rumah, tapi tak terlihat apa pun di dalam rumah itu. Setelah aku menunggu agak lama, akhirnya aku pun menyadari kalau rumah itu kosong entah tidak berpenghuni atau penghuninya sedang keluar. Kulihat atapnya pun sudah ada yang bocor. Sehingga ada sebagian air hujan yang masuk ke dalam rumah.  Di bagian belakang ruang tamu terlihat ada sebuah kamar. Aku masuk dan berjalan menuju ke kamar itu. Betul, disitu memang terdapat sebuah kamar yang masih lumayan bagus. Cuma bocor sedikit saja.

Aku kembali ke ruang tamu dan menutup pintu depan kemudian kembali masuk kamar dan menutup pintunya. Aku mulai membuka bajuku yang basah kuyup karena kehujanan. Kemudian aku merogoh saku celanaku untuk mengambil korek api yang aku temukan di jalanan. Kemudian aku keluar kamar dan mencari dapur untuk mencari kayu atau sesuatu yang dapat digunakan untuk membuat api agar aku dapat menghangatkan tubuh dan pakaianku. 

Akhirnya aku menemukan beberapa batang kayu di dapur. Dan aku pun mulai membakar kayu itu untuk mengeringkan bajuku dan juga menghangatkan tubuhku. Dengan cahaya api inilah aku bisa melihat dengan jelas isi rumah itu. Dindingnya semua sudah buruk, tingkapnya ada yang sudah tidak tertutup lagi. Hanya kamar yang aku masuki tadi adalah kamar yang lumayan sedikit baik daripada kamar lainnya. Aku pun memutuskan akan menjadikan rumah itu tempat perlindunganku yang tetap waktu malam hari setelah meminta sedekah, kerana lebih baik tinggal di situ daripada tidur di kaki lima setiap malam. 

Rasa kantuk pun akhirnya menghinggapiku dan aku pun pergi berbaring di kamar yang kering tadi dan memejamkan mata. Baru saja aku memejamkan mata, tiba-tiba aku men dengar bunyi pintu kamar tamu seperti dibuka orang. Belum sempat aku bangun hendak melihat apakah gerangannya yang membuka pintu itu tiba-tiba aku mendengar bunyi tapak kaki orang masuk. Aku pun mendiamkan diri dalam kamar itu.

Orang itu berjalan di depan kamar dimana aku sembunyi dan menuju api yang aku hidupkan di dapur. Aku bangun dan mengendap-mengendap.

“Barangkali inilah tuan rumah ini,” pikirku.

Alangkah marah dan terkejut bila dia melihat aku berani masuk ke dalam rumahnya. Ah, mungkin juga dia seorang peminta sedekah seperti aku. Karena pakaiannya pun koyak robek seperti yang aku pakai. Orang itu tinggi dan kurus. Mukanya cekung seolah-olah baru sembuh dari sakit. Dia duduk mencangkung di hadapan dapur dan menggerak-gerakkan kedua-dua tangannya dekat api. Matanya lekat memandang api itu seolah-olah ada benda yang aneh dilihatnya. 

Dia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan dan sekali-kali tidak menghiraukan pakaianku yang tergantung dekat api itu. Hatiku tak enak membiarkan dia di situ seorang diri. Dengan fikiran yang serba salah akhirnya aku keluar perlahan-lahan dari kamar itu dan terus berkata, 

“Maafkan saya, Tuan, saya hendak mengambil pakaian saya!”

Dia menoleh dan tidak berkata sepatah pun melainkan hanya mengangguk dan mempersilakanku mengambil pakaian itu. Aku pun mengambil pakaianku yang masih setengah kering dan memakainya. Dia memandang ke arah api yang mulai redup. Kemudian aku mengambil lima batang kayu lagi dan menambahkan ke bara api tadi agar menyala lagi lebih terang. Lalu Aku duduk di sampingnya dan dia pun masih duduk terdiam tidak berkata sepatah pun. Aku melihat dia yang tampak masih basah kuyup daripada aku. Air yang turun dari badannya tidak berhenti mencucuri ke lantai.

“Lebat sekali hujan malam ini!” kataku memulai percakapan.

“Ya,” jawabnya. Suaranya parau seperti satu suara yang keluar dari dalam gaung.

“Bapak dari mana?” tanyaku lagi.

Dia menoleh ke arah ku dan sambil tersenyum berkata,

“Saya kehujanan seperti Anda juga dan datang berlindung di sini!”

“Baguslah!” kataku. “Jadi saya ada kawan!” lanjutku.

Sedikit demi sedikit mulailah orang itu mau diajak ngobrol. Hilang rasa mengantukku. Kami mengobrol tentang bermacam-macam hal hingga akhirnya mengenai rumah tempat kami berteduh itu.

“Anda tahu kalau rumah ini berhantu?” katanya.

Aku hanya menggelengkan kepala saja sambil memandang keliling rumah itu.

“Tuan rumah ini dulu seorang kuli kebun getah. Orangnya baik dan sangat disayangi oleh managernya. Dan tidak lama kemudian dia dilantik menjadi mandor menjaga kuli-kuli yang bekerja.

“Karena rajin dan tekunnya, maka manager itu melantik dia menjadi pengurus penjual getah di bandar. Pekerjaan ini menyebabkan dia selalu tidak ada di rumah...” kata orang itu.

“Dia mempunyai seorang isteri dan mempunyai dua anak yang sudah beranjak remaja. Rupanya ketika dia tidak ada di rumah, isterinya selingkuh dengan manager kebun getah itu. Mula-mula dia tidak tahu, tetapi pada suatu hari, ketika dia balik ke rumah didapatinya manager dan isterinya sedang berbaring berdua di atas tempat tidur. Dia pun segera mencabut parang terus membunuh kedua-duanya,” lanjutnya sambil menunjuk sebuah foto di dinding sambil berkata kembali, “Dialah yang telah menghabisi istri dan selingkuhannya sekaligus, dan kemudian dia lalu bunuh diri dengan parang yang sama.”

Spontan aku melihat foto yang terlihat samar-samar di dinding itu... meskipun foto itu sudah begitu kotor dan agak kabur tapi aku dapat dengan jelas melihat gambar foto itu. Dan ternyata... foto itu adalah fotonya. Seketika itu pula aku jatuh pingsan di sampingnya.


Wednesday, April 7, 2021

Orang Asing Di Garasi Rumah


Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi, Bukan tempat kejadian Sebenarnya.


Malam itu aku pulang ke rumah, dan sampai di rumah sekitar pukul 10:15 malam. Setelah menaruh sepeda motorku di dalam garasi dan tidak lupa untuk menguncinya, aku segera masuk ke kamarku. Kali ini orang tuaku tidak marah padaku karena aku sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah temanku, ada beberapa tugas sekolah yang belum terselesaikan dan guru meminta untuk dikumpulkan tugas itu esok hari. Sungguh hari yang sangat membosankan karena kali ini tugasku sangat banyak. Sesampai di rumah, suasana rumah sudah dalam keadaan gelap, semua lampu ruangan sudah dimatikan begitu juga dengan orang tuaku, kakak dan adikku sudah tertidur pulas di kamar mereka masing-masing dan aku juga merasakan letih yang begitu berat. Saat tiba di kamarku, aku langsung mematikan lampu kamar dan menuju tempat tidur untuk memeluk erat gulingku kemudian aku langsung tertidur pulas.

Saat itu entah mengapa aku mengalami mimpi buruk dan terbangun tepat di pukul 02:10 pagi. Ketika itu aku sangat terkejut dengan apa yang kuimpikan dan aku juga tidak bisa menjelaskanya. Kulihat jam di samping tempat tidurku menunjukan pukul 2:10 pagi. Ini masih terlalu malam untuk bangun tidur, saat itu aku sungguh merasa sangat kesal dan aku tidak bisa melanjutkan tidur, setiap kali aku menutup kedua mata ini tetap saja selalu terbuka. Aku sangat beruntung karena jadwal sekolah esok hari aku masuk siang. Tak lama kemudian aku ingin buang air kecil dan menuju ke toilet, jika malam hari lampu di setiap ruangan di rumahku selalu dimatikan kecuali dapur dan kamar mandi karena kedua ruangan tersebut tidak boleh dimatikan sampai pagi. Setelah selesai buang air aku langsung menuju kamarku dan duduk di atas tempat tidur. 

Berpikir apa yang akan aku lakukan malam ini, terpikir untuk menonton tv, memainkan game di komputer atau mendengarkan musik itu semua hanya membuatku bosan. Di tengah kebingungan aku membuka setengah tirai jendela di kamarku untuk melihat situasi lingkungan di rumahku. Tiba-tiba apa yang aku tangkap dari pandanganku? Ada sesosok bayangan gelap berdiri tepat di samping mobil di garasi, entah apakah itu? Bayangan gelap itu menyerupai figur seorang pria. Karena aku mengira itu adalah pencuri oleh sebab itu aku sangat penasaran dan menangkapnya, sepertinya dia sedang mengintai mobil pribadi Ayahku, saat itu aku langsung berlari menuju ke kamar adikku, karena kamar adikku hampir dekat dengan bagasi mobil dan kamar adikku juga dalam keadaan gelap, aku sengaja tidak menyalakan lampu kamar agar pencuri itu tak tahu keberadaanku. Saat itu aku membuka tirai jendela kamar adikku perlahan-lahan dan mulai mengintip, siapakah sesosok bayangan itu?

Ternyata apa yang kulihat, itu adalah seorang pria. Pria itu memiliki tinggi sekitar 175 cm, berambut hitam, berkulit putih, dan mengenakan pakaian serba hitam. Aku juga sangat kurang jelas melihatnya karena lampu di area garasi juga dimatikan. Wajahnya pun sangat samar dan terlihat hanyalah mulutnya, tetapi aku melihatnya dengan jelas. Sungguh hebat, aku kagumpadanya, kenapa aku kagum padanya? Karena pintu garasi sudah terkunci sangat kuat sebelumnya olehku, dan dia sangat hebat bisa membukanya dari dalam, sungguh di luar dugaan. Setelah itu, aku terus memperhatikan gerak-gerik dari pria itu tetapi aku tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan darinya, dia hanya diam berdiri mematung tepat di samping mobil ayahku. Aku mulai merasakan hal yang aneh pada pria itu, kenapa dia hanya berdiam diri saja? Saat itu aku berpikir, seorang pencuri pasti sangatlah lihai dan licik, dia pasti menggunakan sebuah trik agar kita mudah dikelabui olehnya, tetapi aku merasa sangat aman pada pria itu karena dia tidak membawa perlengkapan apapun, aku bisa melihatnya di kedua tanganya.

Beberapa menit kemudian, aku sangat merasakan keanehan yang sangat luar biasa, karena selama beberapa menit yang dilakukan pria itu hanyalah berdiri tanpa bergerak sama sekali, sungguh aneh bukan? Kedua kakiku mulai lemas dan aku mulai merasa takut padanya. Saat itu pria itu menoleh tepat ke kamar adiku, tiba-tiba saja dengan reflek aku langsung menutup tirai jendela kamar. Gosh! Saat itu aku sangat terkejut dan kaget, kemudian keringat dingin mulai bercucuran di punggungku. Aku sangat merasa takut, apakah dia seorang pencuri atau seorang pembunuh? Saat itu pikiranku sangat kacau, aku hanya melihat adikku yang sedang berbaring tidur dan menikmati larutnya malam, dan di sini aku sedang merasakan jantungku yang berdebar-debar dan hampir putus. 

Saat itu aku mulai merasa panik yang luar biasa dan ingin membangunkan kedua orang tuaku, tetapi sebelumnya aku ingin melihat sekali lagi dari pria misterius itu, aku mulai membuka tirai dengan perlahan dan mengintip dari celah tirai, ternyata pria itu masih tetap berdiri mematung di samping mobil ayahku, apa sih yang ia lakukan di sana? Dan kalau memang dia seorang pencuri kenapa tidak langsung saja mencungkil pintu mobil, dan kenapa dia hanya berdiri dan mematung? Kemudian, tiba-tiba saja pria itu membalikkan tubuhnya dan pergi menuju pintu garasi, saat itu aku berpikir dan bernapas lega, akhirnya pria itu pergi menjauh dari rumahku. Tetapi ada yang aneh dari cara berjalan pria itu, dia berjalan terlihat mengambang, mungkin ini adalah efek dari mata mengantuk pikirku, kemudian aku mengusap kedua mataku berulang-ulang dan memandang pria itu berjalan, tetap saja pria itu berjalan dengan cara yang sangat aneh. Saat itu aku memperhatikan kedua kakinya, dan kali ini pria itu tidak memiliki kaki dan dia memang berjalan dengan mengambang. 

Oh tidak! Ternyata pria itu adalah hantu! Saat itu aku mulai panik dan penuh dengan keringat, pandanganku tetap tertuju ke pria itu, saat dia berjalan tiba-tiba saja dia menoleh menuju kamar adiku dan tepat memandangku. Wajahnya sangat pucat dan tanpa ekspresi matanya tertutup oleh rambut dan kemudian kedua kakiku merasa sangat lemas dan sangat sulit untuk digerakkan. Kemudian pria itu keluar dari bagasi dan kali ini aku sangat terkejut sekali apa yang aku lihat, aku melihat pria itu berjalan ke atas menuju ke langit dan lenyap di gelapnya malam.

Friday, March 26, 2021

18 Tempat Angker dan Horror yang Ada di Surabaya



Foto "Rumah Hantu Darmo"yang terkenal seram di Surabaya


Surabaya adalah salah satu kota bersejarah di Indonesia. Memiliki sejarah tak luput juga dari cerita-cerita rakyat setempat yang mengkeramatkan suatu lokasi yang mempunyai nilai mistik. Daripada hanya membahas bualan yang tidak ada artinya, mari kita cek tempat-tempat yang angker di kota surabaya ini.

Entah percaya atau tidak, cerita-cerita angker yang erat hubungannya dengan sosok hantu memang sudah seperti jadi budaya di Indonesia. Bahkan di setiap kota selalu memiliki cerita masyarakat sendiri yang sudah ada dari turun-temurun.

Mana saja tempat paling angker di Surabaya? Berikut ini kami uraikan tempat-tempat angker di Surabaya.

1. Rumah Hantu Darmo

Rumah hantu Darmo menjadi peringkat nomor 1. Rumah ini sudah ditinggalkan penghuninya lebih dari 10 tahun. Kabarnya mereka dibunuh oleh jin, yang terikat dalam satu perjanjian pesugihan. Tak sedikit warga sekitar yang mengaku mengalami kejadian-kejadian ganjil disana. 

Versi yang lain mengatakan ketika terjadi pembunuhan satu keluarga pada tahun 80 -an yang terdiri dari ayah, ibu, dan 3 orang anak, rumah ini sontak menguras perhatian publik karena banyaknya kejadian-kejadian ganjil pada rumah tersebut yang tidak tapat diterima akal sehat. Mulai dari seseorang yang menangis di malam hari, penampakan yang menjelma jadi seorang wanita cantik yang menggoda pengguna jalan, tumbuhnya pohon raksasa di depan rumah yang tidak dapat ditebang sampai akhirnya rumah ini tidak lagi menarik minat para pembeli lagi dan ditinggalkan begitu saja. 

2. Pantai Kenjeran

Tidak banyak tulisan yang mengabarkan kalau tempat ini angker. Padahal dulu dari sinilah sumber kekuatan terbesarnya Surabaya. Konon ada kerajaan ular di daerah sini. Pantai lama, pantai baru, serta di tikungan dari pantai lama menuju arah Nambangan, disinilah yang selalu memakan korban. Percaya atau tidak setiap tahun selalu ada saja orang tewas di 3 tempat tadi.

3. Delta Plaza

Delta Plaza yang megah ini ternyata didirikan di atas bekas Rumah Sakit UGD. Awal dari cerita suster gepeng juga berasal dari sini. Lokasi dimana sering munculnya penampakan wanita berbaju putih ialah di pepohonan dekat antara WTC dan Plaza-nya.

4. Kampus ITS

Menurut cerita, ada kuntilanak di jalan kembar di depan ITS. Ketika malam lewat jam 21.00, si kuntilanak suka menggoda para pengendara yang lewat di sana. Tapi sekarang jalan itu sudah diterangi banyak lampu dan jalannya sudah diperbaiki, jadi tidak bergelombang lagi. Tempat lainnya yang dikabarkan berhantu di sekitar situ adalah perpustakaan ITS, Teknik Sipil. Dikabarkan pernah ada mahasiswa gantung diri di tangga gedung).

5. Royal Plaza

Kabarnya pembangunan tempat ini banyak memakan korban. Ada yang jatuh dari lantai atas dan ada juga yang meninggal karena tertimpa alat berat. Pernah juga ada isu tentang terekamnya gambar pocong di Royal Plaza.

6. Universitas Airlangga

Selain dikenal sebagai kampus yang bergengsi, Universitas Airlangga juga dianggap sebagai lokasi yang angker terutama beberapa gedungnya. Universitas yang sudah ada sejak tahun 1847 ini dulunya merupakan sekolah untuk mendidik pemuda-pemuda Jawa yang berbakat di bidang kesehatan.

Karena beberapa gedungnya merupakan gedung kuno yang sudah ada sejak jaman dahulu, maka banyak sekali kisah-kisah horror yang terjadi di Universitas Airlangga, diantaranya adalah:

  • Naga di gedung Fakultas Kedokteran. Konon katanya   gedung ini dikelilingi oleh seekor naga besar yang hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki indra keenam. Seorang satpam di gedung FK mengatakan kalau naga itu adalah makhluk paling kuat di gedung FK. Kabarnya kalau kita berada di gedung FK pada malam hari maka kadang akan terdengar suara geraman keras yang dipercaya merupakan hembusan sang naga.
  • Genderuwo di pohon beringin dekat ruang DR-1 di gedung FK. Masih berada di Fakultas Kedokteran, salah satu tempat yang angker disana adalah ruang DR-1 dimana di bagian depan ruang itu ada beberapa pohon beringin yang besar dengan sulur-sulur yang panjang sehingga menciptakan suasana horror. Kabarnya banyak mahasiswa yang pernah melihat sosok makhluk bertubuh hitam besar (genderuwo) yang berada di pohon itu pada malam hari saat mereka lewat di daerah itu.
  • Pocong di ruang paduan suara. Menurut cerita, banyak mahasiswa yang sering melihat pocong di ruangan ini, yang letaknya masih dekat dengan gedung FK. Mahasiswa yang terpaksa datang ke kampus pada malam hari dihimbau untuk menjauhi ruangan ini.
  • Tangisan perempuan yang bunuh diri di parkiran. Ada yang mengatakan kalau kita memarkirkan kendaraan pada saat Maghrib atau malam hari dan mendengar suara tangisan perempuan maka tetaplah diam dan jangan menoleh untuk mencari sumber suara. Beberapa mahasiswa yang memilih menoleh mengatakan bahwa mereka melihat sosok yang mengerikan disana. Sosok itu adalah perempuan dengan pisau yang menancap di perutnya. Konon perempuan itu adalah orang yang dulu bertugas untuk menebang pohon di daerah itu namun kemudian bunuh diri disana.
  • Bunyi suara kaki diseret di dekat gedung Parasitologi. Pernah ada yang menguji nyali di area lantai tiga dekat gedung Parasitologi dan mengatakan kalau ia mendengar bunyi kaki diseret yang semakin lama semakin mendekat. Menurut cerita, suara itu berasal dari hantu seorang pekerja yang pernah mengalami kecelakaan kerja saat berada disana pada malam hari.
  • Lorong Fakultas Farmasi. Walaupun kita melewati lorong ini pada siang hari tetap saja kesan seram akan bisa dirasakan saat melewati lorong di Fakultas Farmasi ini. Menurut seorang pekerja, memang ada hantu usil yang berdiam di tempat itu. Banyak hal seram yang terjadi disana, mulai dari lampu yang tiba-tiba mati padahal keadaannya masih bagus, sampai ada juga yang terjatuh seperti ada yang menjegal kakinya.
  • Suara tangisan di Laboratorium Biotek. Laboratorium yang ada di lantai dua gedung Farmasi ini juga dikenal angker. Pernah ada tiga orang mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas sampai malam di ruangan ini dan tiba-tiba mendengar suara tangisan dari pojok ruangan, namun begitu dilihat ternyata tidak ada siapapun disana.
  • Sumur mayat di gedung FK. Salah satu tempat paling angker di gedung FK adalah ruangan di departemen Anatomi dan Histologi. Kabarnya di dalam ruangan itu ada sebuah kolam formalin berisi mayat-mayat untuk keperluan praktek mahasiswa. Jika ada seseorang yang berjalan sendirian disana konon akan mengalami hal-hal menyeramkan.
7. Rumah Sakit Dr. Soetomo

Mungkin gara-gara banyaknya orang yang meninggal karena dirawat di rumah sakit inilah, konon banyak arwah yang bergentayangan dan perawat disini mengaku sering mendengar suara ringkikkan dan tangisan di dalam kamar mayat.

8. Rumah Sakit Darmo

Banyak pengakuan dari para perawat serta pegawai rumah sakit yang sering melihat kemunculan suster yang kakinya tidak menyentuh tanah, serta terdengarnya suara rintihan di waktu tengah malam.

9. Makam Pahlawan 

Makam ini sudah terlihat seram di pagi hari, apalagi kalau sudah malam. Salah satu yang membuat lokasi ini mengerikan adalah adanya makam di tugu Pahlawan. Salah satu gedung di sekitar tugu Pahlawan adalah gedung tua Bank Indonesia yang pernah terlihat ada sosok pendekar jaman dulu dengan pakaian khas Madura berkeliling kantor di malam hari. Dan ada juga kisah tukang bersih-bersih yang dikejar pocong. Masih berminat mau berkunjung disana saat malam hari?

10. SMA Komplek (SMA N 1, SMA N 2, SMA N 5, SMA N 9)

Bangunan lama, apalagi sejak jaman Belanda, sering digunakan sebagai tempat persemayaman makhluk ghaib dan disini adalah gudangnya setan. Berdasarkan cerita dari teman-teman yang sekolah disana, banyak hal-hal yang ganjil terjadi ketika sore menjelang malam. 

Hal seram yang terjadi antara lain; suara papan tulis yang digetok-getok, toilet yang keluar air sendiri, banyak terlihat tentara pelajar tanpa kepala berkeliaran, guru Belanda yang sedang dansa, hingga suara mesin ketik di tengah malam.

11. Gedung Grahadi

Masih merupakan peninggalan bangunan jaman Belanda, gedung Grahadi adalah rumah dinas Gubernur Jawa Timur. Sebagai bangunan lama, Grahadi dulu difungsikan sebagai peristirahatan pejabat Belanda. Semakin berjalannya waktu, kisah horror di Grahadi semakin muncul. Seperti seringkali terlihat ada sosok hantu Belanda berjalan di antara lorong. 

12. Balai Pemuda

Dulu pada jaman Belanda, Balai Pemuda adalah tempat hiburan no 1 di Surabaya. Para warga Belanda dulu suka berdansa dan minum-minum semalaman disana. Kalau sekarang sudah dipakai untuk acara pernikahan atau konser musik. Di samping gedung itu dulu ada pohon beringin yang sampai tahun 2004 masih diberi sesajen, namun untuk sekarang pohon itu sudah ditebang. Yang menyeramkan adalah beberapa orang pernah mendengar alunan musik jadul dari dalam gedung itu padahal sedang tak ada orang di dalam.

13. Kantor BPN Surabaya Jalan Tunjungan

Karena seramnya tempat tersebut sekarang kantor BPN pindah ke daerah Balongsari. Di surat berita Harian Jawa Pos disebutkan, alasan mereka pindah salah satunya adalah karena gangguan mahkluk astral disitu.

14. Balai Pemkot Surabaya

Tempat ini memang seram, banyak wartawan yang sering menjumpai sosok misterius yang tergesa-gesa setengah berlari di lorong-lorong Balai Kota ini.

15. Bekas Pabrik Padi Ketintang 

Sebuah pabrik tua di kawasan Ketintang dianggap sebagai tempat misterius. Lokasi yang dulu merupakan pabrik padi saat jaman Belanda itu rupanya dibeli oleh perusahaan swasta. Sampai saat ini di dalam gedung tua itu masih ada mesin-mesin namun kondisi gedung begitu gelap dan tanpa cahaya. Sosok seperti perempuan Belanda menjadi makhluk astral terkenal disana. Selain itu sosok nenek tua yang disebutkan terbunuh di jaman Belanda dengan cara dipenggal juga sering terlihat di pabrik tua Ketintang ini. 

16. Pintu Air Jagir 

Pintu air Jagir dibangun pada tahun 1917 dan berfungsi sebagai pengendali banjir, penyedia air baku dan menahan intrusi air laut. Menurut sejarahnya, pintu air Jagir ini pernah dijadikan tempat bersandarnya tentara Tar-tar yang akan menyerbu kediri pada tahun 1293. Pintu air ini pernah direnovasi tepatnya pada tahun 1978, tetapi tidak merubah bentuk dan gaya arsitektur Belanda.

Di balik kemegahan arsitekturnya, pintu air Jagir ini juga menyimpan cerita misteri yang masih terdengar hingga sekarang. Salah satunya cerita mengenai buaya putih yang kadang kala terlihat oleh masyarakat sekitar. Bahkan tim dari Mr. Tukul Jalan-jalan sempat mengulas cerita misteri mengenai pintu air Jagir ini dan banyak juga masyarakat sekitar yang menceritakan mengenai buaya putih tersebut. Pintu air Jagir ini sering kali meminta korban, bisa dibilang seringkali ada korban meninggal yang tenggelam di sungai dekat pintu air tersebut dan ada juga yang jasadnya tidak ditemukan hingga sekarang.

17. Rumah Hantu Kupang

Jika Anda melewati Jalan Diponegoro mau ke Pasar Kembang, ada rumah besar di kiri jalan itulah rumah hantu Kupang, tepatnya di Kampung Banyu Urip Wetan IA No. 107, Surabaya. Dahulu tempat tersebut dibuat tempat penyiksaan tentara Jepang. Salah satunya yang terkenal Cak Durasim juga meregang nyawa disitu.

Gedung tua ini terlihat menonjol dan berbeda dari bangunan lain di sekitarnya. Dari luar sudah terasa nuansa angker dan menyeramkan ketika melihat bangunan itu. Warga kota Surabaya sering menyebutnya dengan nama ‘rumah setan’ atau ‘gedung setan’. Sejak jaman kolonial Belanda, gedung itu memang sudah terkenal dengan sebutan ‘spookhuis’.

Asal muasal nama gedung setan memiliki beberapa versi. Versi yang tertulis di buku Oud Soerabaia (1931) karya von Faber yang dikutip Duncan Graham dalam artikelnya yang berjudul “Surabaya’s Ghost House” di Majalah Latitude (2010) menyebutkan bahwa setan di gedung ini adalah salah satu penghuni rumah yang membunuh anak hasil hubungan gelapnya. Selain itu ada pendapat lain bahwa hantunya adalah seorang budak kapal yang memiliki cap (cap kepemilikan budak) dan berpesan tidak mau dimandikan jenazahnya ketika mati. Versi terjemahan Belanda Kuno von Faber ini memiliki sedikit variasi disana sini.

Selain itu, ada kisah yang menyebutkan fungsi rumah setan dulunya sebagai tempat penyimpanan jenazah orang Tionghoa sebelum dimakamkan. Disitu jenazah disimpan, dimandikan dan diprosesikan menuju ke pemakaman yang berada persis di seberangnya (Pasar Kupang dan sekitarnya). Kisah ini dibuktikan dengan ukuran pintu gedung yang sangat tinggi agar prosesi pemakaman –yang biasanya diikuti bendera- bisa melewati pintu dengan bebas. Roh-roh jenazah orang Tionghoa inilah yang dipercaya menjadi setan dan menghuni gedung. Tapi ini tidak dibuktikan dengan catatan tertulis bahkan fungsi rumah jenazah itupun dipertanyakan kebenarannya.

Terlepas dari mitos cerita setan yang beredar, gedung setan ini awalnya dibangun untuk ditinggali oleh pemilik pertamanya yaitu J.A. Middelkoop. Middelkoop membeli area Kupang dari Daendels seharga 4.000 rijksdalders dan tahun 1809 mulai dibangun sebagai tempat tinggal. Setelah ia wafat, rumah berpindah tangan ke orang Tionghoa. Pada masa von Faber pemilik rumah itu adalah Dr. Teng Sioe Hie. Ada pendapat gedung setan diambil dari nama Tionghoa pemiliknya yang bermarga Tan (She Tan). Julukan rumah setan ini diduga sudah melekat di benak penduduk Surabaya sejak awal abad ke-20.
Namun jangan salah, meskipun terlihat angker gedung setan ini tetap berpenghuni. Saat ini ada sekitar 50 keluarga atau sekitar 200 jiwa yang menghuni bangunan ini. Mereka adalah sanak-kerabat turun temurun dari pemilik gedung spookhuis. Adapun hak milik atas gedung setan saat ini adalah pengusaha bernama Teng Kun Gwan atau dikenal dengan nama Gunawan Sasmito. Yang tak lain adalah keturunan ketujuh dari pemilik gedung.

Gedung yang memiliki luas sekitar 400 m² ini terdiri dari dua lantai. Pada bagian belakangnya terdapat bekas altar sembahyang bagi leluhur. Saat ini altar tersebut menjadi tempat parkir motor dan sepeda milik para penghuni gedung. Di bagian tengah terdapat sebuah ruangan yang cukup lapang dengan jendela-jendela yang lebar. Terdapat pula ruangan yang berfungsi sebagai Gereja Pantekosta, tempat beribadah bagi penghuni gedung dan warga sekitar yang beragama Kristen. Tampak pula gambar Yesus Kristus dan gambar-gambar lainnya menghiasi ruangan ini.

Di sekitar gedung setan (spookhuis) terdapat sebuah pasar tradisional yang dikenal dengan nama Pasar Gedung Setan. Yang menarik dan tampak berbeda dengan pasar-pasar tradisional lainnya, pedagang di pasar ini didominasi oleh orang-orang beretnis Tionghoa yang tak lain adalah penghuni gedung setan.
Jika Anda berminat mengunjungi gedung bersejarah dan penuh cerita misteri ini, aksesnya sangat mudah. Dengan kendaraan pribadi dari kota Surabaya, Anda tinggal mengarahkan kendaraan menuju kawasan Kupang. Letak gedung ini tepat di pinggir jalan raya. Dari jalan, bangunan gedung tua yang besar dan tampak mencolok ini akan langsung terlihat jelas.

ANGKOT SILUMAN

 

Gambar hanya sebagai ilustrasi, bukan gambar kejadian sebenarnya


Kulihat Ani masih berkutat dengan pekerjaannya, tumpukan file dan kertas kerja menumpuk di mejanya. Kasihan juga dia sebenarnya, tapi memang karakter dia seperti itu, suka menunda-nunda pekerjaan jadinya pas waktu tenggat hampir habis kelabakan lah dia. Tapi dia itu teman yang baik menurutku, selain selera humornya, dia itu bisa dipegang, maksudnya kalau kita mau curhat atau cerita yang agak pribadi dia pasti bisa menjaga, tidak bocor kemana-mana.

“Ani, wah mejamu ruarr biasaaa...” ledekku sambil duduk di depannya.

Ani cengar-cengir, “Bantuin dong... jangan cuma meledek!” pintanya dengan wajah memelas.

“Kamu sudah selesai kan? Takut nih sendirian di kantor.”

“Heeh... no lunch for free!” balasku.

“Huuu... ok deh, mau minta apa nih? Nganterin jalan-jalan… nganterin shopping… atau apa nih?” gantian Ani yang meledekku. Dia tahu aku ini jarang sekali beli barang yang tidak sesuai kebutuhan, bukan apa-apa memang kondisi keuanganku cekak aja.

“Nganterin window shopping aja lah, jangan sering-sering shopping… berat diongkos...!” sergahku kalem tapi sedikit menyindirnya.

“Bisa aja kamu, iyalah ntar tanggal muda kita jalan-jalan. Aku yang traktir makan minumnya!” jawab Ani.

“Nah itu baru ok!” kataku sambil menyorongkan dua jempol jariku ke arah dia. Kamipun tertawa bersama.

Sesasat kemudian kami tenggelam menyelesaikan tugas Ani. Tugasku sudah selesai sejak tadi tapi nggak sampai hati rasanya meninggalkan Ani sendiri di kantor. Dia itu teman baikku di kantor dan di kota ini. Ia masih tinggal dengan orang tuanya, sedangkan aku mesti kost. Makanya uang gaji dia utuh... hehehe... dia bisa kredit motor, belanja ini itu selepas terima gaji. 

Sedang aku? Sebelum terima uang saja daftar kebutuhan sudah nongol duluan, ada sih sisa sedikit tapi... huh aku jadi teringat bunda di kampung yang suka sms, yang isinya selalu sama... minta bantuan dana buat ini itu. Ah sudahlah... kok jadi ngelantur begini. Ntar nggak bisa konsentrasi malah makin lama menyelesaikan tugasnya.

Akhirnya selesai juga... setelah merapikan meja, kami berdua keluar ruangan menuju area parkir.

“Wah lembur ya, Mbak!” sapa pak Tito, satpam kantor kami.

“Yoi... tapi sudah selesai kok.” jawabku 

“Iya tinggal Pak Tito yang masih lembur… heheheh.” sambung Ani setengah bercanda.

Pak Tito hanya tersenyum mendengar celotehan Ani, dia sudah lama kerja di sini jadi dia sudah hafal dengan karakter orang-orang di kantor ini. Apalagi para pekerja di sini biasanya cukup lama bisa bertahan. 

Sesampai di ruang parkir hanya ada beberapa motor dan mobil yang tersisa, sebagian sudah pada pulang jadi area itu terasa cukup lengang. Paling itu motor dan mobil karyawan yang lembur seperti kami ini... heheheh.

“Masih jam tujuh malam... mampir mall yuk? Window shopping aja… kan tanggal tua!” ajak Ani.

“Mmmhmm...” Aku sebenarnya enggan untuk menanggapinya. Kalau sudah masuk toko, aku cuma bisa ngiler melihat barang-barang yang terpajang di situ. Nggak sanggup beli hanya bisa melihat-lihat saja.

“Ayolah, bentar aja. Nanti jam delapan tepat cabut deh!” rajuk dia.

“Terserah kamu ajalah!” jawabku pendek. Mau tak mau aku mesti ikut nih, namanya juga numpang membonceng motornya. Tapi Ani tahu diri juga kok, dia mengerti kalau gerbang kostku ditutup jam setengah sepuluh malam, maklum kost putri, jadi ada aturan aturan tak tertulis yang mesti diikuti. 

Sesampai di mall, Ani berubah acara, dia tidak jadi window shopping, tapi dia mengajakku makan minum di sebuah gerai makanan. Katanya lapar... padahal tadi jam lima sore sudah diberi nasi box oleh pihak kantor. Ooh... ternyata hanya ingin ngemil saja dia. Setelah memesan orange juice dan dua potong kue kami duduk di salah satu kursi di gerai itu.

“Wah aku nggak enak nih, selalu kamu traktir!” ucapku sesaat setelah duduk.

“Siapa juga yang bilang aku selalu traktir kamu? Sudahlah nggak usah dipikirin, santai aja.” jawab Ani ringan. Dia lalu menyeruput orange juicenya.

“Eh kayaknya, kamu dapat surat kan minggu kemaren? Dari siapa sih? Hari gini masih kirim kirim surat via pos? Pacar dari kampung ya?” gurau Ani.

“Ah bukan, dari bundaku dari kampung!” jawabku pendek. Malas rasanya membicarakan masalah keluarga sudah beberapa hari ini aku terima sms dari bunda tapi sengaja tidak aku balas. Eeh... sekarang malah kirim surat.

“Oops... sorry!” kata Ani, dia mengerti permasalahanku. 

Saat minum orange juice, pikiranku melayang, membandingkan hidupku dengan Ani memang berbeda, meski gaji yang kami terima sama tapi aku mesti rajin menyisihkan sebagian penghasilanku untuk membantu bunda di kampung. Sebenarnya aku ikhlas loh bisa membantu, apalagi ayah juga sudah berpulang semenjak aku masih balita. Aku tidak ingat sama sekali figure ayah, hanya lewat foto-foto saja aku mengenalnya, jadi aku memahami betul beratnya bunda menghidupi kami sekeluarga.

Dan sekarang setelah kami semua dewasa, ternyata beban hidup bunda juga terus berlanjut, bagaimana tidak? Anak-anaknya tidak ada yang dibilang sukses. Kakak lelaki tertua bernama Yudi, dia sudah menikah dan bekerja di Jakarta. Tapi sebagai pegawai rendahan di sebuah kantor tentu sudah berat untuk menghidupi keluarganya sendiri. Lalu kakak yang kedua bernama Wawan, dia juga sudah bekerja dan menikah. Setali tiga uang dengan kakak tertua, kak Wawan juga dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. 

Sedang kakak ketigaku, kak Adi... wah payah dia. Belum menikah sih tapi dia tidak mau bekerja, jadilah bunda terbebani dengan kondisi ini. Sedang Doni, kakak keempat sudah berpulang ke padaNya sekitar dua tahun lalu karena sakit keras. Akhirnya aku jugalah yang jadi tumpuan bunda untuk sering-sering membantunya. Untuk Bunda aku tidak masalah, tapi untuk kak Adi? Dia kan lelaki dan sudah dewasa pula, mestinya harus bisa menghidupi diri sendiri. Masak selamanya mau begini terus?

“Hayooo... ngelamun ya? Jangan suka melamun ntar dimasukin...”

“Setan ya?” potongku.

“Bukan... tapi dimasukin lalat... hahahahah” jawab Ani sambil tertawa keras.

Aku ikutan tertawa. Lalu kami asyik mengobrol ringan ini itu sambil makan dan minum. Di saat kami asyik menghabiskan waktu tiba-tiba handphone Ani berbunyi.

“Hallo... Ma...!” sapa Ani begitu dia membuka handphone. 

Wah dari mamanya rupanya, biasa kalau Ani ditelpon keluarga kalau sampai malam belum pulang, dan Ani selalu bilang lembur... padahal sedang bersantai ria menghabiskan waktu. Namun tiba-tiba raut muka Ani berubah, wajahnya kelihatan tegang dan cemas. Telepon dari seberang seperti menjelaskan sesuatu yang tidak dia perkirakan sebelumnya.

“Iya... Ma... aku segera pulang!” Ani mematikan handphone, lalu menarik napas panjang.

“Ada apa, An? kayaknya berita berat!” seruku ikut ikutan cemas.

Ani terdiam sesaat lalu katanya, “Kakakku Anton mengalami kecelakaan... sekarang ada di rumah sakit. Mama memintaku segera pulang agar di rumah ada yang jaga!” urai Ani dengan nada sedih.

Aku termangu sebentar mendengar ceritanya, lalu ucapku, “Ya sudah... kamu pulang sekarang saja!”

Tapi belum selesai aku bicara Ani sudah memotongnya, “Tapi aku kan janji mau mengantarkanmu pulang ke kost?”

“Aduh kamu tuh... kasihan mamamu dong! Santai sajalah... aku bisa naik angkot, biasanya angkot sampai jam sembilan kok, jadi masih bisa!” terangku. 

Sebenarnya aku dan Ani searah jalan pulang tapi cuma setengahnya, sampai perempatan ujung kota kami mesti berpisah, Ani berbelok arah ke selatan sedang aku menuju kost ke arah utara. Kalaupun aku nebeng dia sampai perempatan, risiko buat mencari angkutan lanjutan, apalagi malam-malam begini, mendingan aku mencari angkot di tempat mangkalnya... tidak jauh dari sini, atau bisa juga aku menghentikan di depan mall ini, jalur angkot ada yang lewat sini dan kebetulan langsung bisa ke kost tanpa mesti ganti angkutan lagi.

“Salam buat keluarga ya, An? Semoga kakakmu cepat sembuh!” ucapku kepadanya saat kami hendak berpisah.

Ani tersenyum dan mengangguk, “Sampai besok, ya?” jawabnya.

Kami lalu berpisah. Ani pergi ke parkiran sedang aku berdiri di depan mall menunggu angkot datang. Tak seberapa lama angkot yang aku tunggu datang, aku segera naik ke dalamnya, tidak banyak penumpang saat itu, hanya sekitar empat orang saja, maklum sudah malam... dan saat ini sudah banyak orang yang berganti armada motor. Sebenarnya aku sudah berencana membeli motor secara kredit, tapi aku masih ragu karena kondisi keuanganku sungguh mepet. Aku belum lama bekerja jadi tabunganku juga belum cukup, perhitunganku sih mesti ada dana cadangan tiga bulan buat hidup baru berani ambil kredit motor. Aku takut kalau sampai kredit macet motor bisa diambil kembali... lah rugi dong.

Angkot yang aku tumpangi berjalan dengan lambat dan santai karena sekalian mencari tambahan penumpang. Para penumpang kulihat terkantuk-kantuk karena kelelahan. Kalau dari pakaian yang dikenakan rata-rata mereka seperti aku, karyawan swasta.

Pelan tapi pasti, angkot meninggalkan pusat perkotaan menuju pinggiran. Suasana yang tadinya ramai berganti sepi, memang sih ada beberapa motor atau mobil yang lewat tapi itu cuma beberapa saja. Aku memang mencari kost yang ada di pingggiran karena harganya miring. 

“Loh... ada apa ini?” teriak seorang penumpang. 

Aku jadi tersadar dari lamunanku, ternyata angkot berhenti mendadak dan ada asap tipis keluar dari arah depan. Kami semua keluar termasuk sopir dan kernet.

“Wah... maaf... mobilnya mogok!” seru pak sopir.

“Yaaaah... gimana nih!” kami para penumpang bersungut-sungut.

Mungkin karena nggak enak hati dan takut diomeli, sopir itu minta kernet mengembalikan uang kami, terpaksalah kami berpencar mencari jalan pulang sendiri sendiri.

Aku mencoba mencari bantuan, kuambil handphone dari dalam tas dan kucoba menelpon teman kostku, siapa tahu ada yang bisa menjemputku di sini. Sudah malam begini agak sulit mencari angkutan karena jarang ada yang lewat. Untuk ikutan nebeng motor atau mobil yang lewat aku malah takut sendiri.

“Sial... sial...!” gerutuku, ketika kulihat layar handphone meredup... ternyata batrenya habis.

Terpaksa aku berjalan kaki menuju kost, belum begitu malam sih... baru jam delapan lebih lima belas menit. Aku perkirakan kurang dari satu jam aku bisa sampai kost jadi pintu gerbang belum ditutup.

Suasana malam begitu sepi, angin juga sepoi sepoi menerpa diriku dan mempermainkan rambutku. Hawa dingin mulai menusuk tubuhku karena aku tidak memakai jaket. Entah berapa lama aku berjalan tapi dari belakang kulihat nyala mobil… ah paling hanya mobil yang lewat begitu pikirku.

Eh... ternyata bukan mobil tapi angkot... aku segera melambaikan tanganku sebagai tanda aku bermaksud naik. Angkot itu lalu berhenti di depanku, aku segera masuk ke dalamnya. Cukup banyak penumpangnya, kulihat tiap deret kursi ada paling tidak satu atau dua orang. Aku duduk di salah satu kursi yang berisi satu orang. Setelah membayar ke kernet aku segera duduk dengan santai. Untunglah ada angkot yang lewat jadi aku tidak perlu berjalan kaki jauh, maklum aku sudah capek sekali setelah seharian kerja dan lembur pula.

Angin yang berhembus dari arah pintu membuatku semakin mengantuk. Ya aku duduk di kursi persis di samping pintu masuk.

“Pak, saya turun di perumahan Lembayung Asri ya!” seruku kepada kernet.

Kernet itu mengangguk lalu kembali mengalihkan pandangan keluar mencari penumpang lain. Sebenarnya aku agak heran dengan suasana angkot ini, karena tidak ada suara keriuhan yang kudengar baik dari para penumpang maupun sopir dan kernet. Mereka tampak diam membisu. Ataukah karena sudah malam sehingga mereka merasa lelah? Kernet yang biasa teriak-teriak mencari penumpang juga tampak berdiri diam saja bergelantung di pintu, para penumpang juga seakan di dunianya sendiri sendiri, diam tanpa ada interaksi satu sama lain. Kalau sopir sih aku paham... dia mesti konsentrasi menjalankan mesin.

“Pulang kerja, Pak?” kucoba membuka percakapan dengan bapak tua yang duduk di sampingku.

Bapak itu memalingkan wajahnya sebentar ke arahku, lalu mengangguk cepat dan kembali menghadap kedepan. Aneh... kenapa wajah bapak itu terlihat pucat dan tidak ada sinar kehidupan? Ah mungkin karena sudah tua dan sedang sakit... begitu aku menghibur diri. Aku jadi malas mengajaknya bicara, mendingan aku tiduran aja melepas lelah... tidur-tidur ayam begitu istilahnya, toh aku sudah bilang ke kernet untuk menurunkanku di perumahan Lembayung Asri. Nyaman dan enak sekali rasanya, sudah badan dalam kondisi capek, ditemani angin yang menerpaku serta suasana angkot yang sunyi tanpa suara… klop deh.

“Aduh... ada apa ini!” teriakku saat kepalaku membentur sesuatu yang keras. Kuraba kepalaku? Terasa sedikit mengeras dan menyembul... Aku mencoba membuka mata, meski terasa begitu berat karena rasa kantuk masih menggelayuti. Semburat tipis cahaya matahari terlihat dari ufuk timur, pertanda pagi sudah menjelang, kugosok-gosok kelopak mataku dengan tangan karena aku merasa ada yang aneh: benarkah ini kenyataan ataukah hanya mimpi? 

Kulirik jam yang melingkar di tanganku... jam enam pagi lebih beberapa menit. Aku belum sepenuhnya sadar... kulihat sekeliling seperti masih samar-samar.

Aku segera bangkit dari dudukku karena aku merasa pemandangan sekelilingku sungguh aneh, aku merasa tidak ada di kamar kostku tapi juga tidak di dalam angkot. Terakhir kuingat aku masih di angkot, tapi kini aku dimana ya? Kutajamkan mataku dan aku terbelalak... kenapa aku bisa ada di tengah areal pekuburan? Aku benar-benar tidak percaya, aku bahkan sampai mencubit pipiku berkali kali sambil terus mengucap istigfhar... ya ternyata benar! Aku memang ada di pekuburan. 

Masya Allah... jadi semalam aku naik angkot siluman? Dan kepalaku terbentur salah satu batu nisan yang ada di situ. Gemetaran aku segara berdiri... Kulihat pemukiman penduduk berada tidak terlalu jauh dari sini... aku harus segera mencapainya. Sambil terus berdoa dalam hati aku berlari terbirit-birit meninggalkan areal pekuburan itu.


Misteri Teks Kuil Edfu

Sumber Gambar : Wikipedia kuil efdu mesir


Mesir kuno mengenal legenda Atlantis yang juga ditemukan di seluruh mitos dunia, Asia, Eropa, dan Amerika. Atlantis merupakan mitos penciptaan, berbicara tentang proses abadi, transisi dari tak berbentuk menjadi terbentuk.

In Atlantis: Egyptian Genesis karya Ian Driscoll dan Matius Kurtz, mereka menyelidiki mitologi munculnya teks Mesir kuno yang tertulis pada dinding Kuil Edfu sebagai sumber yang mungkin merujuk pada narasi Plato. Ian memperluas penyelidikan ini di bagian kedua yang menyertakan munculnya mitologi seluruh dunia, membandingkan tema yang ditemukan dalam mitos budaya berbeda dalam kisah Plato tentang peradaban Atlantis yang hilang.

Sejak Plato menyebutkan mitos Atlantis dalam dialog Timaeus dan Critias, banyak menimbulkan pertanyaan kisah legenda Atlantis dan menjadi perdebatan sengit. Aristoteles menyatakan dengan tegas bahwa legenda Atlantis tidak memiliki dasar sejarah.

Proclus, sering mengutip Neo-Platonis di abad ke-5 yang membuat penjelasan bahwa cerita ini ditafsirkan sebagai alegori spiritual, nyata dan bagian dari peristiwa sejarah. Teori modern bermunculan tentang adanya legenda Atlantis di antaranya hipotesis Santorini modern (Tediously Skolastik), dan Atlantis sebagai representasi dramatis mekanika kuantum. Atlantis dinyatakan sudah berulang kali ditemukan, seratus lokasi yang berbeda pada abad sebelumnya belum termasuk penemuan saat ini.

Kuil Edfu dibangun antara 237 dan 57 SM zaman Mesir kuno, kemungkinan masuk dalam proyek konstruksi pemerintahan Fir’aun Ptolemeus yang menjadi salah satu bangunan paling terawat baik di Mesir. Ukiran pada dinding merupakan salah satu kisah-kisah mitologis yang paling unik dan menyimpan misteri kehidupan Mesir kuno. Mesin terbang tergambar lebih dari dua ribu tahun yang lalu tetapi jelas bahwa isi cerita yang mereka tuliskan menggambarkan sejarah jauh sebelum masa penulisan, sebuah negeri yang sangat maju.

Kisah yang tertulis menyatakan tentang sebuah peradaban di pulau kuno yang didirikan oleh para dewa dan diperintah oleh sekelompok dewa kembar. Di tengah-tengah pulau didirikan istana penguasa tertinggi Dewa Bumi, yang beristirahat pada pilar besar dikenal sebagai Djed yang artinya Stabilitas atau Permanen. Kehidupan terus berlanjut di tempat ini dalam jangka waktu yang sangat panjang hingga bencana muncul berupa badai besar yang menghancurkan pulau.

Badai diakibatkan ular jahat yang mengamuk tanpa henti, menenggelamkan penduduk asli pulau tersebut dan menghanyutkan semua jejak peradaban sebelumnya. Pulau itu terendam, benar-benar tenggelam di bawah gelombang besar.

Reymond, seorang Egyptologist yang mengabdikan sebagian besar hidupnya mempelajari mitologi Edfu Mesir kuno, dia menyatakan bahwa bencana yang mengakibatkan Tanah Suci telah dibentuk oleh pencipta, telah berakhir pada saat tertentu pada zaman purba. Badai mungkin muncul di pulau itu yang dilakukan oleh musuh, tetapi digambarkan sebagai ular. Agresi besar sehingga menghancurkan tanah suci, dan penduduk meninggal.

Setelah kehancuran Atlantis, ribuan tahun pulau itu terendam di bawah air, dihiasi tanaman buluh yang menonjol di atas permukaan laut sebagai penanda kuburan peradaban yang mati. Beberapa waktu kemudian cahaya bersinar di tengah-tengah kegelapan, pada saat ini dua dewa muncul dari laut. Asal usul mereka dijelaskan dalam teks dinding Mesir kuno tapi tidak memberikan detail lebih lanjut.

Kedua dewa membuat jalan mereka yang menunjukkan garis pantai dari tanah cekung. Mereka membentuk pilar dari batang buluh dan mendirikannya di tengah-tengah pulau di tempat keberadaan Djed, Dewa Bumi terdahulu. Seolah-olah mereka menggunakan sihir yang membuat air mulai surut, dan Dewa baru sebagai pengganti Dewa yang lama kemudian dipanggil.

Dewa baru yang memiliki penampilan seperti elang besar akan memimpin pemulihan kehancuran dunia dan akhirnya akan mengalahkan ular jahat yang menyebabkan kehancuran peradaban kuno para dewa. Tanah para dewa dengan pilar di pusatnya dan penguasa kembar tiba-tiba hancur dalam satu badai bencana, penjelasan secara analog tentang Atlantis seperti yang dikatakan Plato dengan berbagi semua fitur yang sama.

Sejarah menceritakan tentang Poseidon yang hidup di pulau Atlantis, mengawini seorang gadis muda dan menjadi bapak dari sepuluh putranya. Pulau ini dibagi dan mereka memulai sejumlah proyek pembangunan, beberapa di antaranya mendirikan pusat istana yang memiliki pilar besar terbuat dari logam kemerahan yang bersinar dengan intensitas api. Pilar ini berfungsi sebagai simbol masyarakat Atlantis. Pilar yang terukir berisi perintah-perintah Poseidon yang mengatur perilaku sepuluh raja. Pilar ini mencerminkan ikatan persaudaraan kerajaan yang diperbarui secara teratur.

Legenda Atlantis dinyatakan sebagai masyarakat ideal yang tumbuh kuat dan makmur selama bertahun-tahun, hingga Plato menyatakan bahwa unsur Tuhan di dalamnya menjadi lemah karena masuknya budaya dunia fana, dan sifat-sifat manusia menjadi dominan, mereka tidak lagi membawa kemakmuran dengan moderasi. Pandangan perseptif degenerasi mereka cukup jelas, penilaian kebahagiaan sejati yang rusak dalam mengejar ambisi yang tak terkendali dan kekuasaan, berada di puncak kejayaan dan keberuntungan. Dan Dewa Zeus yang memerintah hukum, melihat hal itu kemudian memutuskan untuk menghukum mereka.

Mesir kuno dan masing-masing budaya dunia menampilkan mitos yang sangat mirip, dan teka-teki itu tidak seharusnya bertanya “dimana,” tapi “apakah” yang dimaksud Atlantis? Atlantis merupakan mitos penciptaan, berbicara tentang proses abadi, transisi dari tak berbentuk menjadi terbentuk.

Mesir Genesis, satu legenda Mesir kuno yang menceritakan tentang Edfu dan narasi Plato, cerita Atlantis tidak terbatas wilayah Mesir kuno. Legenda Atlantis ditemukan di seluruh mitos seluruh dunia, Asia, Eropa, dan Amerika. Atlantis harus dipahami bukan sebagai peristiwa sejarah ataupun sejarah literal, tetapi sebagai sebuah mitos penciptaan yang akan ditempatkan di samping Judaeo, Genesis dan Hindu Purana.

Semua bermula dari Taman Eden dan banjir besar Nuh, pohon besar Norse Yggdrasil dan Ragnarok, pulau Hindu Jambu, dengan pegunungan yang menjulang tinggi di pusatnya, dan Mesir kuno menyimpan misteri besar tentang Atlantis.


Tuesday, March 17, 2020

Cerita Horor di Malam Minggu Pontianak


Sebenarnya cerita ini, hanya sebuah cerita berdasarkan pengalaman yang memang benar-benar terjadi. Nulisnya sengaja nggak di malam Jum’at tapi di malam minggu supaya suasananya bisa lebih menyenangkan sekalian bisa mengisi waktu di malam minggu. Ada beberapa pengalaman yang ingin saya tuliskan kali ini, mungkin saya mulai dari pengalaman horor yang saya alami di kantor. 

Cerita berawal saat saya mendapatkan sebuah tugas lembur saat itu. Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu saat masih berstatus sebagai CPNS di sebuah instansi pemerintah. Gedung kantor tempat saya bekerja memang kalau dilihat dari luar terkesan kusam, lusuh, dan samun, suasananya terasa kurang nyaman apalagi kalau berada di lantai tiga, siang saja terasa nggak nyaman apalagi malamnya.

Saat itu saya mendapatkan tugas membantu menyusun anggaran di lantai dua gedung belakang. Saat hari masih terang sih belum terasa merindingnya, tapi saat gelap mulai datang mulai timbul keanehan-keanehan yang membuat merinding dan juga membuat tersenyum. Sering terdengar suara seperti orang yang sedang turun naik tangga dan itu terjadi terus menerus, karena penasaran saya pun keluar dari ruangan untuk memastikannya, ternyata tidak ada siapa-siapa yang sedang turun naik tangga. 

Kejadian itu terus berulang dan karena saya penasaran saya pun menanyakan hal ini dengan rekan kerja saya yang tampak cuek-cuek saja. Entah mereka mendengar atau tidak. Entah mau menenangkan saya, mereka hanya menjawab sambil tersenyum mungkin orang di Gereja belakang kali (di belakang kantor kami memang ada sebuah gereja). 

Terus terang saya sih nggak yakin kalau itu suara dari orang-orang yang berada di Gereja belakang, karena suara jejak langkah turun naik tangga itu hilang kalau saya keluar menuju tangga itu dan kembali muncul saat saya mulai bekerja lagi. Pada akhirnya dengan mengucapkan Taawuz menyebut nama Allah saya berusaha untuk menganggap hal itu menjadi biasa dan mulai bekerja lagi sambil ngobrol-ngobrol bersama teman hingga larut malam.

Cerita kedua terjadi di awal tahun 2009 kemarin tepatnya sekitar bulan Maret. Saya mendapat tugas untuk mengikuti diklat yang diadakan oleh IMIDAP, diklat tentang pengembangan desa mandiri energi di Makassar Sulawesi Selatan.

Cerita ini terjadi sehabis Maghrib, saat itu saya dan rekan saya sekamar sedang makan malam di lantai dasar hotel tempat kami menginap, kebetulan kamar kami berada di lantai lima hotel itu. Handphone saya saat itu memang tertinggal di kamar, sehingga saya tidak mengetahui kalau ada beberapa orang yang berusaha menghubungi saya pada jam itu.

Saat saya kembali ke kamar, saya melihat banyak panggilan gagal di HP saya dan tidak lama kemudian ada sebuah panggilan dari teman saya di Pontianak yang langsung bertanya “Ko, tadi suara cewek siapa tuh? Wah kau bawa-bawa cewek ya ke kamar?” Saya pun langsung balik tanya “Emang tadi kamu dengar suara apa?” Teman saya pun langsung menjawab, “Tadi ada suara cewek yang menjawab ‘rizkonya lagi keluar!” Saya pun langsung nanya balik, “Yang benar?” Teman saya pun menjawab “Demi Allah.”

Semenjak telepon dari teman saya, suasana nyaman di kamar hotel tersebut menjadi terasa sangat tidak nyaman. Apalagi saat itu hampir tiap malam rekan se kamar saya sering tidak berada di kamar, jadi otomatis selama tidur di kamar itu saya lebih sering sendiri. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang datang, saya coba perbanyak waktu untuk Sholat dan mengaji di kamar hotel itu.

SMS Misterius (Kediri)

Dari sejumlah keterangan yang diperoleh, sebelum ditemukan gantung diri Arif Nurhuda mendapat kiriman SMS misterius dari seseorang yang di HP Arif , ditulis dengan inisial WT dengan nomor 085227323333. Diduga, WT adalah pacar Arif, yang belum diketahui di mana tinggalnya dan apakah teman satu sekolah atau bukan.

Arif Nurhuda, pelajar kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Budi Utomo, Perak, Jombang, ditemukan tewas gantung diri di kebun pohon jati dekat rumahnya di Desa Klampitan, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Anehnya, Arif nekat mengakhiri hidup setelah menerima SMS dari seseorang yang menceritakan aksi bunuh dirinya.

SMS misterius itu diterima WT dari seseorang yang mengaku bernama Kangen, kemudian SMS itu diteruskan oleh WT ke ponsel Arif. Isi SMS yang sempat diperlihatkan kepada wartawan itu kalimatnya cukup membuat merinding.

“Namaku, Kangen siswi SMK 4 Jambi. Ku mati bunuh diri, memotong tanganku sendiri. Kulakukan karena aku hamil sama pacarku. Seluruh badanku penuh darah. Ini nomerku. Dengerin ku bernyanyi, 081918836427. Kalau tak percaya, coba telepon. Kirim SMS ke 18 orang. Kalau gak kirim, aku akan mengganggumu terus selama 18 tahun. Mulai nanti malam dekat pintu, di bawah kasur, di bawah jendela, ku di sisimu pukul 01.08. Ini kisah nyata. Jangan kirim balik.

Nb : Kami sudah menelphone dan kenyataannya memang ada yang bernyanyi ?!?”

Isi SMS tersebut dikirim oleh WT kepada Arif tertulis tanggal 7 Juni pukul 12.29 WIB. Berarti SMS itu masuk ketika Arif sedang shalat Dhuhur, atau setengah jam sebelum Arif meninggalkan rumah dengan membawa sepeda BMX.

Sedangkan tulisan “Nb: Ku udah telepon dan udah ada yang menyanyi,” belum jelas apakah kalimat itu terusan dari kalimat kiriman Kangen, atau kalimat tambahan dari WT setelah mendapat SMS dari orang yang bernama Kangen tersebut.

“Kami masih menyelidiki keterkaitan SMS ini dengan korban,” kata Kapolsek Purwoasri, AKP Sartana. Selain SMS misterius tersebut, WT sebelumnya dua kali mengirim SMS kepada Arif. Salah satunya, WT menegaskan bahwa dirinya ingin balik lagi dengan Arif. Tapi rasa cintanya kepada Arif, seperti tertulis dalam pesannya, sudah tidak lagi utuh 100 persen, hanya 50 persen.

Apakah karena hal ini sehingga Arif nekat mengakhiri hidupnya? AKP Sartana belum berani memastikan. “Saya temukan HP itu di dalam kamar korban. Bisa jadi setelah membaca SMS itu, jiwa korban tertekan. Tapi semua masih kami dalami,” tandasnya.

Horor Di Mengger Bandung


Semalam ngobrol sama teman-teman nggak tahu, mendadak sampai ke cerita horor. Di sini salah satu teman saya bercerita tentang cerita horor di Jalan mengger di Bandung (jalannya cuma satu blok dari kontrakan. Serem!

Kabarnya di jalan itu kita nggak boleh menyebutkan satu kata yang merupakan nama dari wanita penunggu di situ, dan percaya nggak percaya banyak orang yang nantangin dan hasilnya mereka terkena penyakit yang di luar logika.

Kadang kala saya sendiri juga bingung, sering saya lewati jalan itu bahkan tengah malam sendirian naik motor, kenapa jalannya kayak mau keluar kota, di mana-mana sawah, dan tidak ada lampu selain lampu motor.

Kejadian ini sudah lama, tiga orang anak SMP baru pulang naik angkot dari kegiatannya bermain bola saat itu sekitar jam delapan malam (di sini jam segitu angkot udah susah), ketika mereka naik angkot itu lewatlah mereka di jalan mengger, di dalam angkot itu hanya ada mereka dan sopir angkotnya saja.

Di tengah perjalanan sesosok wanita dengan pakaian yang serba merah, dengan payung merah (kayak film-film ), menghentikan angkot itu, dan ketiga anak itu bingung kenapa wanita horor kayak gitu diangkut juga sama si sopir, tapi pikir mereka ya sudahlah. Akhirnya sang sopir melanjutkan perjalanan.

Awalnya wanita it duduk diam saja dengan kepala tertunduk, namun berselang beberapa menit, dia mulai mendekati ketiga anak itu dan membelai kepala mereka satu per satu, ketiga anak SMP itu tentu saja langsung melihat ke arah wajah wanita itu yang jaraknya mungkin hanya sejengkal dari wajah mereka, ketika mereka perhatikan, wajah wanita itu rata alias tanpa wajah. Spontan mereka kaget bukan main, mau teriak tapi mereka sama sekali tidak bisa bergerak dan bersuara.

Akhirnya angkot melewati sebuah pabrik yang tidak terurus dan si wanita itu meminta sopir angkot untuk menurunkannya di situ. Sopir angkot yang dari tadi hanya diam, menurut saja, setelah wanita itu turun dari angkot entah bagaimana, sang sopir dengan tenang melanjutkan perjalanannya, dan wanita itu menghilang.

Ketiga anak itu langsung menangis dan menceritakan kejadian tadi pada sopir angkot itu. Dan ternyata, Sopir angkot itu mengatakan, “Wah itu sudah biasa di sini dek.” Anak-anak itu semakin ketakutan dan bertanya-tanya, “Kenapa di angkut juga tuh orang?” “Wah, kalau nggak diangkut nanti saya yang kecelakaan Dek,” kata sopir angkot. Setelah kejadian itu, ketiga anak itu jatuh sakit.

Kedengarannya ceritanya memang aneh, unik, dan seperti berlebihan, tapi percaya nggak percaya ada orang juga yang mengakui kejadian seperti itu pernah menimpa dirinya, dan ada juga yang mengatakan bahwa cerita anak SMP itu sama persis dengan cerita tentang temannya waktu SMP dulu, namanya Agung. Usut punya usut, katanya wanita itu adalah korban tabrakan di jalan itu.

Ada juga cerita tentang jangan menyebut nama si wanita merah itu di jalan tersebut, kalau menyebut, bisa-bisa Anda mengalami kecelakaan.

Toilet Tua Di Kampus

(Gambar Hanya Ilustrasi, bukan tempat kejadian sebenarnya) Kalau sudah libur, asrama disini, tidak peduli asrama putri ataupun putra, termas...